Hidup Damai Sejahtera

     Belakangan ini salah satu yang diperlukan orang ialah damai. Persoalan orang sekarang terlalu banyak orang yang senang ribut, cari ribut, dan bikin ribut. Indonesia bahkan dunia sekarang membutuhkan orang yang membawa damai.
     
     Adanya permasalahan dari hal paling kecil lingkupnya yakni dalam rumah tangga. Banyak rumah tangga yang terus ribut; keluarga kaya ribut, yang paling repot sudah susah ribut. Adanya ketidakpahaman antara suami dan istri pada dasarnya pria dan wanita berbeda. Ada 2 (dua) prinsip perbedaan antara pria dan wanita. Pertama, wanita pada dasarnya selalu khawatir akan masa depannya baik yang cantik apalagi yang kurang cantik. Pada intinya hampir semua wanita khawatir akan masa depannya sampai ia menemukan suami, sampai suatu ketika ia mendapatkan suami barulah ia tenang mudah-mudahan suami saya menjamin hidup saya kedepan. Dilain sisi pria hampir tidak pernah khawatir akan masa depannya sampai ia bertemu dengan istri, barulah pria menyadari kebutuhan perempuan banyak ya, make-upnya mahal ya, maunya banyak ya, dan lain sebagainya. Kedua, hampir setiap pria menganggap dunia ini biasa saja berbeda dengan hampir semua wanita yang melihat dunia ini rumit saja apa apa dirumitkan, apa apa dibuat panik, ini lah yang menjadi persolan serius padahal jika wanita memahami bahwa suami berbeda dengan istri, istri berbeda dengan suami maka semuanya akan menjadi indah.

     Damai sejahtera pada dasarnya telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta yang tidak sama dengan dunia berikan kepada manusia. Ia memprogram bahwa hidup kita dalam damai, Ia tidak memprogramkan kita agar hidup dalam keadaan tertekan, Ia tidak memprogramkan kita untuk stress, namun ia memprogramkan kita untuk hidup berbahagia. Tapi, persoalanya kita berpikir damai adalah sebuah keadaan, namun dalam hal ini damai ialah sebuah keputusan. Kita dapat memutuskan apakah kita hidup damai atau hidup tertekan. Mungkin diantara pembaca ada yang berkata “tapi saya seumur hidup belum pernah menjalani hubungan dengan seseorang untuk menuju pernikahan”, anda tidak perlu berkecil hati layangan putus saja yang harganya tidak seberapa dikejar orang, yakinkan saja bahwa anda lebih berharga dari layangan putus.

     Kita bisa mengambil keputusan apakah kita mau hidup dalam damai atau hidup tertekan. Apabila sekarang anda sedang hidup banyak masalah dan hidup dalam banyak persoalan, itu adalah kebodohanmu sendiri. Damai adalah keputusan, jadi kalau tidak ada damai dalam hidup, dalam berpasangan rumah tangga, dalam pekerjaan berarti kita sendirilah yang memutuskan untuk tidak damai. Damai sejahterah telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Jadi muncul pertanyaan kapan damai ada dalam kehidupan kita? Damai muncul dalam kehidupan kita saat kita mempunyai niat yang bersih dan tidak aneh-aneh. Ketika keinginan kita bersih maka pada saat itu juga damai mengalir dalam kehidupan kita, persoalannya kebanyakan orang mempunyai keinginan dan niat yang aneh-aneh yang konotasinya negatif maka pada saat itu juga damai mulai hilang dalam hidupnya.

     Orang bisa hidup dalam damai sejahtera ketika kita berani mendahulukan kepentingan Tuhan daripada segala kepantingan pribadi, hidup bukan hanya untuk kennikmatan semata, hidup itu untuk benar. Orang jika hidupnya hanya untuk mencari kennikmatan akhirnya yang ia cari hanya keuntungan bukan untuk benar. Melakukan apa kehendak Tuhan terkadang tidak untung (secara duniawi). Mencari keuntungan dan kenikmatan perlu, tapi waktu Tuhan menjadi prioritas.

 Kemudian, orang yang damai dalam hidupnya ialah orang yang mengambil keputusan untuk sadar bahwa apa saja yang Tuhan berikan merupakan hal yang terbaik dalam hidupnya. Entah pasangan kita yang memiliki kekurangan, entah orangtua kita yang memiliki kekurangan, entah teman sejawat kita yang memiliki kekuarangan, entah usaha kita gagal namun itulah yang terbaik menurut Tuhan. Apapun yang Tuhan rancangan dalam kehidupan kita merupakan rancangan yang terbaik menurut Tuhan karena Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita! Tuhan tahu apa yang kita butuhkan! Tuhan Tidak Pernah Salah!!! Jika doamu belum dijawab Tuhan tidak salah, jika sakitmu belum sembuh Tuhan tidak salah, jika pasanganmu selingkuh Tuhan tidak salah, jika pasanganmu meninggalkanmu Tuhan tidak salah. Mungkin kemudian pembaca berpikir “kalau Tuhan tidak salah jadi saya sendiri yang salah?” Belum tentu, tetapi ada hal-hal yang belum kita mengerti, biarkan Tuhan menuntun seiring waktu berjalan. Selama kita percaya dan berharap kepada Tuhan tidak pernah orang percaya ditinggalkan Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secured Financing in Indonesia

Kupu Remang

Unknown