Getting Bigger
Semua orang ingin menjadi "besar", yang dimaksud besar dalam hal ini bukan fisik yang besar tetapi kita dipercayakan oleh Sang Pencipta sebagai perpanjangan tangan dalam hal-hal yang dahsyat dan luar biasa. Sehingga dalam hal ini menjadi besar bukanlah keinginan melainkan anugerah dari Sang Pencipta. Namun, jika menjadi besar merupakan sebagai suatu keinginan maka disitulah muncul masalahnya; kita akan menggunakan apapun caranya meski hal tersebut merupakan hal yang salah.
Oleh sebab itu dalam hidup ini jangan sekedar menggunakan akal pikiran semata, tetapi biarkan Sang Pencipta itu merancangkan hidup kita, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita dan rancangan-Nya bukan rancangan kecelakaan melainkan rancangan damai sejahtera yang memberikan hari depan penuh harapan. Jika hubungan kita maupun urusan kita dengan Sang Pencipta benar maka hasil yang didapatkan pasti maju dan meningkat. Prinsip hidup yang benar bukanlah bagaimana kita kaya dan sukses tetapi bagaimana agar kita dapat mengalami kasih, anugerah, dan penyertaan dari Sang Pencipta. Bukan mengenai bagaimana kita sekarang tapi mengenai apa yang Ia ciptakan dalam hidup kita kelak yakni hari esok kita harus lebih baik. Sebuah pelajaran dalam hidup disaat anda mengeluh karena tidak memiliki sesuatu misalkan sepatu, coba turunkan kepalamu dan lihatlah yang tidak punya kaki. BELAJAR UNTUK BERSYUKUR!
Hal yang tepat agar menjadi "besar" atau sukses / maju adalah membangun kesetiaan dalam kebenaran. Jika cara yang kita lakukan benar dan tepat, maka hasil yang kita peroleh luar biasa dahsyat. Kemudian timbul suatu pertanyaan siapa yang disebut "besar" itu?
1. Orang yang berjiwa melayani, bukan memerintah dan juga menuntut.
Kita akan menjadi orang hebat, jika kita punya jiwa yang melayani. Dalam pandangan pada umumnya mungkin pelayan yang kerjanya melayani dianggap remeh bahkan mungkin rendah, tetapi melayani justru menjadikan kita orang yang hebat "Melayani dengan sepenuh hati, melayani sesama, melayani rakyat, melayani ....".
2. Berjiwa memberi bukan hanya menerima
Hidup ini bukan hanya sekedar apa yang kita terima melainkan apa yang kita telah berikan. Banyak orang yang menjadikan kualitas hidup seseorang berdasarkan tolak ukur apa yang dia terima "Berapa gaji yang diterima? Berapa keuntungan yang diterima? Apa yang sudah diterima dari Tuhan?". Memiliki keinginan untuk menerima itu bukan hal yang salah, tetapi berkeinginanlah untuk memberi lebih banyak untuk Tuhan dan sesama manusia.
3. Orang yang memiliki jiwa berkorban bukan mencari keuntungan
Semua manusia ingin mendapatkan keuntungan. Adakah orang yang mempunyai keinginan mendapatkan kerugian? "Tuhan berikanlah aku kerugian hari ini" saya rasa tidak. Hidup itu anugerah bahkan mati juga merupakan keuntungan. Mengapa mati merupakan keuntungan? Karena tanpa melewati kematian, kita tidak bisa kembali ke sisiNya. Dalam setiap pengorbanan selalu ada kemenangan. Mungkin sekarang kita berjuang dengan susah payah tapi bagaikan suatu pengandaian seorang pertani yang menabur bibit dengan air mata maka ia akan menuai panen dengan sorak-sorai.
4. Orang yang jiwanya dapat menjadi teladan
Menjadi teladan selalu berada pada posisi yang patut dicontohkan oleh orang lain. Jadilah contoh kepada orang lain, jangan senang menghakimi dan jangan terlalu banyak komentar dan kritik tetapi tidak menjadi teladan, itu akan menghambat kemajuan dan peningkatan dalam hidup.
Akhir kata kali ini, bangunlah jiwa yang melayani, memberi, berkorban, dan menjadi teladan agar kelak kita semua menjadi "besar" yang sesuai pada norma dan nilainya.
Oleh sebab itu dalam hidup ini jangan sekedar menggunakan akal pikiran semata, tetapi biarkan Sang Pencipta itu merancangkan hidup kita, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita dan rancangan-Nya bukan rancangan kecelakaan melainkan rancangan damai sejahtera yang memberikan hari depan penuh harapan. Jika hubungan kita maupun urusan kita dengan Sang Pencipta benar maka hasil yang didapatkan pasti maju dan meningkat. Prinsip hidup yang benar bukanlah bagaimana kita kaya dan sukses tetapi bagaimana agar kita dapat mengalami kasih, anugerah, dan penyertaan dari Sang Pencipta. Bukan mengenai bagaimana kita sekarang tapi mengenai apa yang Ia ciptakan dalam hidup kita kelak yakni hari esok kita harus lebih baik. Sebuah pelajaran dalam hidup disaat anda mengeluh karena tidak memiliki sesuatu misalkan sepatu, coba turunkan kepalamu dan lihatlah yang tidak punya kaki. BELAJAR UNTUK BERSYUKUR!
Hal yang tepat agar menjadi "besar" atau sukses / maju adalah membangun kesetiaan dalam kebenaran. Jika cara yang kita lakukan benar dan tepat, maka hasil yang kita peroleh luar biasa dahsyat. Kemudian timbul suatu pertanyaan siapa yang disebut "besar" itu?
1. Orang yang berjiwa melayani, bukan memerintah dan juga menuntut.
Kita akan menjadi orang hebat, jika kita punya jiwa yang melayani. Dalam pandangan pada umumnya mungkin pelayan yang kerjanya melayani dianggap remeh bahkan mungkin rendah, tetapi melayani justru menjadikan kita orang yang hebat "Melayani dengan sepenuh hati, melayani sesama, melayani rakyat, melayani ....".
2. Berjiwa memberi bukan hanya menerima
Hidup ini bukan hanya sekedar apa yang kita terima melainkan apa yang kita telah berikan. Banyak orang yang menjadikan kualitas hidup seseorang berdasarkan tolak ukur apa yang dia terima "Berapa gaji yang diterima? Berapa keuntungan yang diterima? Apa yang sudah diterima dari Tuhan?". Memiliki keinginan untuk menerima itu bukan hal yang salah, tetapi berkeinginanlah untuk memberi lebih banyak untuk Tuhan dan sesama manusia.
3. Orang yang memiliki jiwa berkorban bukan mencari keuntungan
Semua manusia ingin mendapatkan keuntungan. Adakah orang yang mempunyai keinginan mendapatkan kerugian? "Tuhan berikanlah aku kerugian hari ini" saya rasa tidak. Hidup itu anugerah bahkan mati juga merupakan keuntungan. Mengapa mati merupakan keuntungan? Karena tanpa melewati kematian, kita tidak bisa kembali ke sisiNya. Dalam setiap pengorbanan selalu ada kemenangan. Mungkin sekarang kita berjuang dengan susah payah tapi bagaikan suatu pengandaian seorang pertani yang menabur bibit dengan air mata maka ia akan menuai panen dengan sorak-sorai.
4. Orang yang jiwanya dapat menjadi teladan
Menjadi teladan selalu berada pada posisi yang patut dicontohkan oleh orang lain. Jadilah contoh kepada orang lain, jangan senang menghakimi dan jangan terlalu banyak komentar dan kritik tetapi tidak menjadi teladan, itu akan menghambat kemajuan dan peningkatan dalam hidup.
Akhir kata kali ini, bangunlah jiwa yang melayani, memberi, berkorban, dan menjadi teladan agar kelak kita semua menjadi "besar" yang sesuai pada norma dan nilainya.
Komentar
Posting Komentar