Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Kupu Remang

Malam hari tersedu ia menangis Air matanya bercucuran di pipi Dari semua kekasihnya  Tak seorang pun yang menghibur dia Semua teman mengkhianatinya Mereka menjadi seterunya Jalan kembali pulang diliputi dukacita Sunyi senyap bersedih dara pilu Seteru berbahagia membuat merana Lenyaplah ia dalam kegelapan malam Para lawan meandangnya dan tertawa  Berdosa dan najis adanya Kenajisan melekat pada ujung kakinya Sangatlah dalam ia jatuh  Lihatlah sengsaraku  Si seteru membesarkan dirinya Berkeluh kesah seluruh penduduknya Mencari nafkah dengan kenajisan Acuh tak acuhkah kamu yang berlalu Adakah kesedihan seperti kesedihanku Merana tatkala murka-Nya menghantam tubuhku DikirimNya api masuk ke dalam tulang Kesakitanku sepanjang hari Pelanggaranku adalah kuk yang berat Aku memanggil kekasih-kekasihku Mereka memperdayakan aku Sendiri sepi dalam kekalutan Imam dan para tua telah mati Tak ada tanya manusia pada siap...

Unknown

Tak terasa sudah sepuluh tahun terlewati  Aku lupa akan hal itu. Iya, hal itu!  Mungkin juga kamu sudah melupakan hal itu. Jas Merah "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" Sebuah frasa yang tak asing bagi kita.  Waktu terus beputar  Bulan menjadi teman dikesendirian dinginnya malam  Kamu! iya, kamu! sekarang terpisah jarak dan waktu Aku tetap terjaga hanya untuk mendengarkanmu bernafas  Melihatmu tersenyum saat kamu terlelap  Saat kamu jauh bermimpi  Aku bisa tetap tersesat dalam  mimpimu selamanya Menghabiskan waktu bersamamu merupakan syukur dari Ilahi  Tak inginku menutup mata Tak inginku tertidur Aku merindukanmu, kasih Hak Cipta 2020